Senin, 05 Juli 2010

"Sabutret" Wanareja Berpeluang Jadi Produk Unggulan


Kecamatan Wanareja tak hanya sebagai salah satu wilayah penghasil karet rakyat di Cilacap. Kini “Sebutret” (perpaduan sabut kelapa dan karet) yang merupakan salah satu produk dari wilayah ini mulai diminati mancanegara.
Bahkan produk yang banyak digunakan untuk kebutuhan jok, matras, kasur dan bantal tersebut berpeluang menjadi salah satu produk unggulan di Cilacap Barat.

“Setelah mengikuti pameran beberapa bulan lalu, banyak negara yang berminat pada Sebutret Wanareja. Sayangnya saat ini belum bisa terpenuhi karena produksinya masih relative kecil,” kata Kepala Dinas Perdagangan Perindustrian dan Koperasi (Disperindagkop) Cilacap, Yayah Sobriyah melalui Kepala Seksi Hasil Hutan Kimia dan Aneka Industri, Miskun, Sabtu (6/9).

Dijelaskan, produksi sebutret yang dihasilkan dari kelompok usaha yang memberdayakan warga tersebut baru sekitar 20 hingga 30 meter kubik per bulan. Sementara permintaan dari Amerika, Jepang dan Australia sekitar 150 meter kubik per bulan atau 50 meter kubik tiap negara.

“Kendala utama yang dihadapi belum terpenuhinya produksi yakni peralatan mesin, SDM dan modal kerja,” jelas Miskun pada CilacapMedia.com

Dia menyebutkan, setidaknya dibutuhkan modal sekitar Rp 500 juta per bulan agar bisa memenuhi permintaan sebutret tiga negara tersebut.

“Sementara produksi untuk memenuhi pasokan industri jok, matras, kasur dan bantal di Jakarta, Ciamis dan Semarang. Harga sebutret saat ini Rp 2 juta per meter kubik” katanya.

Mengenai keberadaan industri Sebutret, kata dia, awalnya dikembangkan oleh kelompok perajin di Desa Tambaksari, Kecamatan Wanareja pada tahun 2007. Sebelumnya pada akhir tahun 2006 beberapa warga setempat dikirim ke Balai Penelitian Tanaman Karet (BPTK) di Bogor untuk mengikuti pelatihan pembuatan sebutret.

“Melihat potensinya besar, Disperindagkop mengajukan proposal kepada Menteri Perindustrian. Proposal tersebut direspon positif dan awal tahun 2007 Menteri Perindustian memberi bantuan mesin,” katanya.

Bahkan, Miskun menambahkan, untuk meningkatkan produksi sebutret, selain mengirim kembali 10 orang untuk pelatihan pembuatan sebutret, pihaknya telah mengajukan proposal penambahan mesin kepada Menteri Perindustrian. Sehingga diharapkan bisa memenuhi permintaan sejumlah Negara. Dan menurut rencana mesin bantuan tersebut akan ditempatkan di sentra sabut kelapa di Desa Pucung, Kecamatan Kroya.

Selain itu, untuk mengatasi kesulitan modal kerja yang dihadapi pengrajin, pihaknya telah menggandeng Bank Indonesia untuk mengucurkan kredit usaha rakyat.

“Tapi warga masih keberatan dengan bunga pinjaman yang ditawarkan,” katanya.


Sumber :
Wagino
http://cilacapmedia.com/index.php?option=com_content&view=article&id=438:sebutret-wanareja-berpeluang-jadi-produk-unggulan&catid=13:ekonomi-a-bisnis&Itemid=5
6 September 2008


Sumber Gambar:
http://www.ipard.com/Produk/Sabutret.asp

Tentang Jok Sabutret skala usaha tani, klik :
http://www.ipard.com/Produk/Sabutret.asp

Tidak ada komentar:

Posting Komentar